Sabtu, 17 November 2018

Kita pun menjadi titik

Kau yang membuat segala kemungkinan menjadi tidak mungkin
Kau yang meyebabkan setitik harapan menjadi nihil
Kau yang menjadikan kita kembali asing
Lalu kau yang meminta pertanggung jawabanku?
Manusia jenis apa kau?
Lucu saja, selepas pergimu kau kembali datang memintaku menjelaskan segalanya.
Memaksa mengurai bangkai zaman, mengembalikan segala ingatan yang telah ku ikhlaskan.
Hari itu, sungguh... dengannya, ku lepas kau sebebas-bebasnya berlari dan mati bersama kita.
Setitikpun tak ku biarkan tersisa sebab aku kalah oleh sesak paling desak yang kerap kali menerjang dada malam.
Aku kalah, aku mengalah.
Lantas, tak sopan rasanya bila hari ini kau datang meminta hari lalu.
Tubuh ku tanggalkan, kenangan apalagi.
Aku habis tak bersisa. Bekasnya pun tak kan kau temui.
Pulanglah,... peluk lah dia yang kau ingini meski katamu dia tak sehangat diriku. Menetaplah padanya meski akhirnya kau temui sesal, yakinkan saja dirimu itu hanya sementara. Mungkin besok kau temui dia sesuai inginmu, atau manusia baru yang menarik hatimu. Teruslah melangkah, semakin jauh, semakin baik.
Damailah dengan kenyataan, aku sudah memaafkan kita kemudian melupakan.

aku disini baik-baik saja bersamanya yang kupilih sebagai rumah terakhir.
Fyk-6maret2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar