Sabtu, 17 November 2018

Sesal terakhir di hari terakhir tahun kelam

Aneh saja,
Tiba-tiba saja ada yang datang menanyakan bagaimana bisa aku seperti hari ini?!
Entah apa maksudnya
Sekedar silaturahmi kah atau hal lain
Ada yang tiba-tiba datang mengurai kembali alasan2 perginya.
Waktu itu, aku hampir saja lupa masa itu.
Masa dia memilih ikut berpaling saat segalanya telah berpaling lebih dulu.
Ia menyisakan aku dan beberapa sahabat kepercayaanku.
Dengan segala salah aku di antarkannya kesudut paling ujung bagai pendosa tak termaafkan.
Aku menyakitinya, katanya.
Dia pergi karena merasa lelah berjuang sendiri, dia lelah dengan segala ketidak pastian diri, dia ingin mencari yang lebih baik. Itu maksud yang tidak pernah ia katakan secara langsung.
Dia bilang aku tidak pernah sanggup memperjuangkan apapun, siapapun.
Ku tegaskan kali ini
Aku hanya butuh sedikit waktu itu, sedikit lagi sabarmu, sedikit telingamu untuk mendegarkan rencana2 hebatku untuk memperjuangkan kita, dan sedikit keyakinanmu. Namun kau tidak memberiku apapun meski barang sedikit.
Aku paham hari itu, dengan segala rontah yang ku redam aku diam dalam doa sepertiga malam.
Ahh, sudahlah. Hari itu tak ada satupun yang mampu melihat setitik kebenaran dalam diriku. Bahkan diriku sendiri perlahan meninggalkanku.
Begitu menyedihkan,bukan?!
Hari ini ia datang dengan segala resah nya, mungkin pelarian barunya tidak mampu memuaskan rindunya.
Menanyakan kabar seseorang yang pernah ia tinggalkan sepihak.
Seperti hari lalu, ia pikir rindu masih ada didalam hatiku.
Kau salah kali ini.
Aku masihlah diriku, tapi bukan lagi untukmu.
Semenjak pergimu hari lalu, aku menamaimu masalalu
Aku tidak lagi hidup disana, segala alasan pergimu telah ku maafkan.
Dendamku berubah menjadi harap agar kau bahagia bersama pilihan-pilihanmu. Pilihan keluargamu juga tentunya.
Percuma kau urai sebab sesalmu hari dulu, segalanya tak akan sanggup merubah hari ini.

Usah kau perbaiki segala, aku mulai sepakat mengakhiri segala, sesaat setelah kau mengakhiri sepihak.

Fyk-31des2017

Takdir meminta ikhlasku

Ujian berlalu dan kukatakan aku telah selesai.
Maaf, hanya maaf yang bisa ku katakan atas pengabaianku, atas aku yang membuang waktumu, maaf atas kecintaanku yang tidak sebesar cintamu, maafkan atas waktuku yang terlambat menjagamu hingga kau memilih dijaga oleh ia yang kau anggap sanggup menyambung patahmu.
Aku tercengang atas keputusanmu untuk menyerah, ingin mencegah tapi ku pikir itu akan membuatku semakin terlihat egois, ingin merontah tapi itu akan membuatku semakin terlihat tidak logis.
Kau butuh yang mau menghabiskan waktunya denganmu, kau butuh yang lebih baik, tegasmu.
Aku paham, rasa yang pernah tumbuh lebat tidak lantas habis seketika kau babat, aku paham sudah waktunya kita sepakat dengan takdir tuhan.
Aku bergulat dengan waktu yang lumayan hebat, air mata dan kecewa mungkin ada padaku kau pun barangkali demikian. Disini, aku tak ingin merasa terluka sendiri. Apalagi membenarkan diri pada ego masing2.
Kecewa dan luka kini tumbuh menjadi dewasa, lebih dari yang kau sangka.
Tapi ia tak lantas membuatku mengibah apalagi memutus bahagiamu seketika.
Aku sendiri dan kau berdua. Ada rasa yang sedikit tidak adil menurutku tapi dengan alasan bertuhan aku mencoba menerima dengan tabah.
Biarlah...
Setelah meminta maaf, kuputuskan untuk memperbaiki semuanya, belajar mulai dari awal, mengulang pelajaran2 yang terjadi aku mulai mengerti bahwa aku keliru memperlakukanmu dibeberapa hal.
Bila sudah selesai akan ku coba sekali lagi, memperbaiki kesalahan2 kemarin, kali ini dengan cinta yang benar, perlakuan yang benar tapi bukan lagi padamu, tapi untuk setelah mu.
Yang ku tahu pada akhirnya ujian mampu membawamu pada apa yang lebih layak.

Fyk-18juli2017

Kita pun menjadi titik

Kau yang membuat segala kemungkinan menjadi tidak mungkin
Kau yang meyebabkan setitik harapan menjadi nihil
Kau yang menjadikan kita kembali asing
Lalu kau yang meminta pertanggung jawabanku?
Manusia jenis apa kau?
Lucu saja, selepas pergimu kau kembali datang memintaku menjelaskan segalanya.
Memaksa mengurai bangkai zaman, mengembalikan segala ingatan yang telah ku ikhlaskan.
Hari itu, sungguh... dengannya, ku lepas kau sebebas-bebasnya berlari dan mati bersama kita.
Setitikpun tak ku biarkan tersisa sebab aku kalah oleh sesak paling desak yang kerap kali menerjang dada malam.
Aku kalah, aku mengalah.
Lantas, tak sopan rasanya bila hari ini kau datang meminta hari lalu.
Tubuh ku tanggalkan, kenangan apalagi.
Aku habis tak bersisa. Bekasnya pun tak kan kau temui.
Pulanglah,... peluk lah dia yang kau ingini meski katamu dia tak sehangat diriku. Menetaplah padanya meski akhirnya kau temui sesal, yakinkan saja dirimu itu hanya sementara. Mungkin besok kau temui dia sesuai inginmu, atau manusia baru yang menarik hatimu. Teruslah melangkah, semakin jauh, semakin baik.
Damailah dengan kenyataan, aku sudah memaafkan kita kemudian melupakan.

aku disini baik-baik saja bersamanya yang kupilih sebagai rumah terakhir.
Fyk-6maret2018

Penat terakhir

Aku pergi dari riuhnya masalah
Aku pergi dari cinta yang sibuk menuduhku keras kepala
Aku pergi dari ego yang sengit
Aku pergi dari segalanya tanpa pamit
Lari dari rancangan rencana yang nyaris manis
Lari dari kekasih yang mengaku cinta mati
Namun pergi dengan baterai handphone yang hampir mati
Malam yang gigil
Kau kembali terpanggil
Di kedamaian tanpa peduli
Di jiwa-jiwa yang tuli
Aku ingin sepi
Tanggalkan raga bernyanyi lirih
Tanpa perih tanpa letih
Tanpa perlu memahami ego-ego orang lain
Aku ingin sendiri, di dalam rumah yang takkan membuatku lari
Tak ada lagi puisi-puisi

Aku ingin menepi, di pinggir surga yang paling sepi


Fyk-10mei2018

Jumat, 16 November 2018

Sekarang punya suami

Assalamualaikum
Untukmu suamiku...mungkin rindu membawaku pada tulisan ini
Sekian lama tak menulis sebab rupanya bahagia selama menjadi istrimu mampu membuatku melupakan banyak hal termasuk hobyku ini.
Untukmu suamiku...setelah 4 bulan menjadi istrimu, aku tersadar bahwa kita akan selamanya, ingin selamanya, harus selamanya, selamanya.
Aku tak ingin selamanya hanya di dunia, tapi aku juga ingin selamanya sampai di surga.
Suamiku, Allah menjanjikan surga bagi hambanya yang bertakwa, taat padanya dan menjalankan perintahnya saja.
Awalnya aku merasa ibadah itu sangatlah berat, tapat waktu, berbagi, dan menjaga diri agar tidak tergoda duniawi bagiku cukup menekan hingga pada pertengahan juli tahun ini aku merasa tetiba segalanya berubah....
Aku merasa setiap detik dalam hidupku menjadi lebih ringan, lebih mudah.
Dalam tidurpun aku merasa tengah beribadah sebab aku menjadi istrimu.
Suamiku...Hanya Allah yang mampu menilai seberapa besar cintaku padamu
Hanya Allah yang mampu menilai seberapa bahagia aku menjadi seorang istri.
Setiap ego, setiap amarah, seketika teredam hanya dengan menatapmu.
Aku merasa menjadi manusia paling sabar seketika itu.
Tak luput dari sadarku, bahwa rumah tangga tak akan pernah luput dari pertengkaran, namun apapun itu, seberapapun besarnya masalah yang kita hadapi aku selalu memohonkan pada Allah agar menguatkanku dalam menjalaninya.
Sayang,....kita ini manusia biasa, tidak sempurna.
Namun tahukah kau, setiap bertengkar denganmu aku merasa Allah memberiku kesempatan untuk memetik pahala-pahala kesabaran. Aku tidak pernah dendam, aku tidak pernah membenci, aku hanya takut bila nanti Allah tidak menyatukan kita di surganya.
Aku hanya takut untuk tidak bisa membersamaimu di dunia dan di surga, aku hanya takut masuk surga sendiri, atau kau yang memasukinya tanpa diriku.
Suamiku...maafkan aku jika terkesan sangat rakus, aku ingin membersamaimu disetiap waktu, disetiap tempat, dan disetiap keadaan.
Aku ingin menjadi yang paling pertama menghadapi masalah ataupun bahagia bersamamu.
Aku ingin Di hari akhir nanti Allah memberiku kabar bahagia bahwa kau juga ada disurga bersamaku.
Aku tak ingin malaikat2 tampan, aku tak ingin lelaki sempurna menemaniku disana. Aku hanya ingin kamu suamiku dan tetap akan meminta kamu yang menemaniku.
Suamiku,...setiap sesaat sebelum tidur kita menyelesaikan perbincangan malam, di akhir perbincangan aku selalu berkata dalam hati “semoga kaulah satu-satunya jodohku dunia akhirat” sambil tersenyum aku memelukmu sedikit lebih erat kemudian tertidur.
Kurasa, hanya tuhan yang tahu seberapa bersyukurnya aku memilikimu. Bukan karena kamu tampan, bukan karena kamu mapan, bukan karena kamu baik, tapi karena aku mencintaimu dan tuhan menjadikanmu sebagai jodohku. Kau sebagai bukti kasih sayang tuhan padaku dan akan ku jaga.
Suamiku, bila sampai umurku lebih dulu, percayalah aku akan menolak setiap malaikat disurga hanya untuk menantimu membersamaiku.
Kuharap kaupun seperti itu, hiduplah bersamaku di dunia dan di surga. Jadilah kekasih dunia akhiratku.
Suamiku, ketika pertengkaran itu muncul, aku tak pernah berpikir semua adalah salahmu,semua adalah salahku, atau menyalahkan keadaan. Aku hanya berpikir bahwa saat itu mungkin tuhan sedang cemburu padaku yang terlalu mencintaimu.
Tapi tenang suamiku, disetiap doaku aku sering membujuk tuhan dengan kata yang tulus dari hatiku. Tak lepas dari harapku, “engkau yang menyatukan kami di dunia, dan disurga. Maka izinkan kami mencintai sebab cinta kami terhadapmu”
Doa diatas adalah doa wajib hapal bagiku.
Suamiku,...aku memiliki banyak kekurangan, bila suatu hari yang kau cari tak lagi kau temukan di diriku tolong jangan katakan padaku, katakan pada tuhan dan tuhan yang akan mengatakannya kepadaku. Sebab kata Allah tidak pernah salah😇
Suamiku,...ini hanya tulisan note yang terbuat dari rindu dan kenaifan istrimu kala hujan, kau begitu paham istrimu ini lebih suka menulis daripada berbicara secara langsung.
Intinya, aku ingin membersamaimu di dunia dan di surga. Rumah tangga ini adalah media untuk kita tumpangi menuju surga. Semoga kaupun mencintaiku seperti aku melakukannya.


-withlove: istri kamu yang sangat romantis❤️