Merdeka...
Ambigu
menyapah pagi kita
Hari
pertama di desa yang sama
Mengenggam
erat layaknya sahabat
Merangkulku,kamu,dan
kita
Lucunya,
aku mengiyakan dengan mudah
Namun
kau tidak, mungkin sudah sikapmu yang waspada
Aku
bahagia dan kau diam
Aku
tertawa kegirangan, terbawa perasaan dan kau diam
Ku
titip salam pada teman sebagai penanda aku jatuh
Jatuh
yang sebenarnya menipuku
Kemudian
abu-abu menghampiri kita
Aku
berlari mencari cahaya, membawamu juga tentunya
Beberapa
bungkus harap tercercah pecah
Tetap
saja hatiku keras kepala
masih tersisa beberapa bungkus lagi,kataku..
masih tersisa beberapa bungkus lagi,kataku..
Tulisan-tulisan
indah yang sudah menjadi tabiat
Melengkapi
aku yang inginkan kita
Dan
yang ada semakin kesini semakin abstrak
Mata
berkunang-kunang melawan jarak
Jarak
yang semakin berani menarik garisnya
Tiba-tiba
“TAPI” menghampiri kita
Dibawahnya
beberapa ketidak mungkinan yang sering aku semogakan
Beserta
amin-amin dalam doa-doa malam
Perih-perih
beterbangan dihati dan kepala
Ada
ruang dikepalaku ternyata yang hanya dipenuhi kamu
Terkunci
rapat dan tak tersentuh
Namun
lupa ku sadari bahwa kau didalam butuh bebas
Akupun
seperti itu,rindu istirahat
Rehat
dari perjalanan ambigu yang ku buat sendiri
Aku
ingin lepas dari segala merdeka
Juga
dari kau...
-FYK.Makassar,3september2016