Selasa, 31 Maret 2015

lelaki diujung tebing


Puisi : "lelaki diujung tebing"
By : me
31 mar 2015

Dengan baju kaos putih polos tidak bersih
engkau berdiri tegak berbalikkan punggungmu
compang camping gayamu
menghelai nafas ter-engah engah
istirahatlah sejenak
celana hitam lusuh dan kusam
terpasang pas di pinggulmu
kantongnya terlihat mulai robek
benang hitamnya tertarik sedikit demi sedikit
berhentilah sejenak pak,kataku
duduklah disampingku jangan melangkah lagi
Ceritakanlah kisah hebatmu
Semangat muda dan tampan rupawanmu
maukah kau menceritakan tentang gadis pujaanmu
musik favouritmu dan sepenggal kisah nakalmu
aku melihat lemah genggaman tanganmu
mengenggam sebuah tongkat kayu
Yang aku dengar kini lesu suaramu
gemetar kakimu berpijak
namun matamu berbinar terang
Aku akhirnya mampu memahamimu
Seorang wanita...
menjadi bagian hidupmu
tumpuan kakimu
aku tahu dia ibuku
mengapa lantas kau tertatih
Aku diujung tebing,katamu
kurang kuatkah togkat kayu itu untukmu?
Biarkan aku menggantikannya untukmu
tak perlu khawatir, pak
Kau cukup membayarku dengan sebuah lagu
dan beberapa nasehat sebelum tidurku
Atau kau bisa menambahkan sedikit cerita nakal
yang selama ini selalu mampu membuat marah istrimu
Jangan lama berkeluh kesah
hilanglah resah dan buanglah gunda yang menggudang
Biar ku buka sepatu dan memijit keras pundakmu
aku bergantung terlalu lama disana
istirahatlah sejenak bersamaku
kita dengarkan kali ini giliran angin yang bernyanyi
nyanyikan lagu daerah manado kegemaranmu
Besok bila fajar tiba, aku harus pergi
pergi menjemput satu sukses disana
akan kubawa pulang untukmu
sebagai gantinya tepatilah janjimu
ajari tanganku tuk lincah berjalan diatas piano tuamu
ajari telingaku mendengar nada fals disetiap nyayianku
ajari mataku tertutup kemudian merasakan letak kunci not nya
maukah kamu?
Jangan lelah dulu, jangan menyerah dulu
Kembalilah sehat, kembalilah bermain seperti dulu, Ayah...


Dari , fans terberatmu
ANAKMU. (Febriyanti Kakambong)














secangkir cinta

31-mar-2015
Puisi : "secangkir cinta"
By : Me


Sembari mereka bercerita sendiri
tertawa sendiri pada layar ponsel yang sibuk
aku menatap lesu,butuh inspirasi
Hal yang mungkin mampu menglitik
aku teringat akan lagu tentang hujan
Karena hawa dinginnya masih menempel ditubuh
tak kan ku kenakan baju hangat ku,takkan
agar teresapi dingin menusuk rusuk ku
Aku ingin bernyanyi namun mereka bilang jangan
suaraku tidak jelek namun nadaku kadang fales
bukan itu rupanya
Oh...petikan gitarku bisa saja buruk
atau wajahku tidak lagi cantik
Ternyata yang dicinta sedang tidur
biarkan aku memandanginya pulas dengan puas
Tiba2 Secangkir kopi malam ini terasa nikmat sekali
Tak ada gula, tak ada pahit
ternyata aku sedang meniup secangkir cinta yang hangat
Uapnya harum melati
bagaimana bisa seperti ini?
Sungguh manis sekali
aku bukanlah pembual sayang
aku bukan pula orang jujur
aku hanya senang dengan secangkir kopi ini
Mari sini sayangku, ku ajarkan kau menikmatinya
mari sini sayangku, ini hanya secangkir
Tinggalkan pena dan sepatumu
Coba hirup parfum baruku
meski wangi, ku tahu kau takkan pernah suka
apalagi jatuh cinta
Entah karena kepalamu sedang sibuk
ataukah kau tak tahu cara menikmati
secangkir cinta.